Penggunaan Antibiotik Pada Kehamilan

Klasifikasi Obat Berdasarkan Resiko Pemakaian Selama Kehamilan

antibiotik pada kehamilanPembagian berbagai jenis obat dalam kaitannya dengan kemungkinan resiko untuk pemakaian selama kehamilan telah dikembangkan oleh berbagai badan kebijaksanaan obat, misalnya Food and Drug Administration ( USA ) atau Australian Drug Evaluation Committee. Sebagai contoh adalah kategorisasi yang dibuat oleh Australian Drug Evaluation Committee (1999), yang secara garis besar obat-obat masuk dalam 5 kategori :

  1. Kategori A : Obat yang telah dipakai oleh sejumlah wanita hamil dan wanita mampu hamil tanpa disertai kenaikan frekuensi malformasi janin atau pengaruh buruk, baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap janin. Contoh obat yang masuk kategori ini misalnya antipiretik parasetamol, antibiotika penisilin, isoniazid, glikosida jantung, eritromisin, bahan-bahan hemopoetik seperti besi dan asam folat, dan lain-lain.
  2. Kategori B : Obat-obat dimana pengalaman pemakaian oleh wanita hamil atau mampu hamil masih terbatas tetapi tidak ada kenaikan frekuensi malformasi janin atau pengaruh buruk secara langsung maupun tidak langsung terhadap janin. Karena riwayat pengalaman pemakaian pada manusia terbatas, maka kelompok ini terbagi-bagi berdasarkan penemuan-penemuan studi toksikologi pada binatang.
  • B1 : Penelitian pada binatang tidak menunjukkan adanya kenaikan kejadian kerusakan janin (fetal damage ). Misalnya obat-obat simetidin, dipiridamol, spektinomisin.
  • B2 : penelitian pada binatang tidak memadai dan masih kurang, tetapi data yang ada juga tidak menunjukkan peningkatan kejadian kerusakan janin. Sebagai contoh adalah amfoterisin, dopamine, asetil kistein, alkaloid beladona, dan lain-lain.
  • B3 : penelitian pada binatang menunjukkan peningkatan kejadian kerusakan janin , tetspi belum tentu bermakna pada manusia. Contoh karbamasepin, pirimetamin, griseofulvin, trimetoprim, dan mebendazol.
  1. Kategori C : obat-obat yang karena efek farmakologiknya dapat menyebabkan pengaruh buruk pada janin tanpa disertai malformasi anatomik. Pengaruk ini kemungkinan dapat membaik kembali ( reversible ). Misalnya fenotiazin, analgetika narkotika, antiinflamasi non steroid, aspirin, rifampisin, antiaritmia, Ca-channel blocker, diuretika dan lain-lain.
  2. Kategori D : Obat-obat yang telah menyebabkan kenaikan kejadian malformasi janin pada manusia atau menyebabkan menyebabkan kerusakan pada janin yang tidak dapat membaik lagi. ( ireversibel ). Obat-obat ini juga mempunyai efek farmakologik yang merugikan terhadap janin . Contoh : Fenitoin, pirimidon, fenobarbiton, valproat, klonasepam, kinine, kaptopril, obat-obat sitotoksik, antikoagulan, androgen, dan steroid anabolic dan lain-lain. Pemakaian pada kehamilan harus dihindari sedapat mungkin.
  3. Kategori X : obat-obat yang telah terbukti mempunyai resiko tinggi untuk dipakai pada kehamilan karena pengaruh yang menetap ( ireversibel ) terhadap janin. Kontraindikasi mutlak pada kehamilan atau kemungkinan hamil. Termasuk disini misalnya isotretionin, dan dietilstilbestrol.

OBAT ANTIBIOTIKA

Antibiotika atau antimikroba dikenal sebagai golongan obat-obat yang digunakan untuk mengatasi infeksi. Sebagaimana kita ketahui, hampir semua obat antibiotika dapat melintasi plasenta dan memasuki sirkulasi darah janin, dengan kadar yang mungkin lebih rendah, sama atau bahkan lebih tinggi dari ibu. Hal ini tentu memberi konsekwensi yang berbeda tergantung dari jenis obat, potensi, lama pemberian hingga tingkat toksisitas obat baik terhadap ibu ataupun janin.

  1. A. Cephalosporin

Cephalsoforin meskipun relatif aman, sebaiknya hanya diberikan jika alternatif pemakaian antibiotika yang lain yang jauh lebih aman, tidak efektif lagi terhadap infeksi bersangkutan.

  • Cefaclor, cefotaxime, cefotetan, cefoxitin, cefpodoxime, ceftazidime, ceftriaxone, cephamandole, cephazolin B1
  • Cefodizime, cefpirome B2
  • Cephalexin, cephalothin A
  1. B. Penicillin

Penisilin relatif aman jika diberikan pada masa kehamilan, meskipun dapat melintasi plasenta dan mencapai kadar terapetik, baik pada janin maupun pada cairan amnion. Kadarnya dalam cairan amnion sedikit lebih rendah jika diberikan pada trimester pertama kehamilan8. Tidak pernah dilaporkan menyebabkan kelainan pada janin, hanya kadang-kadang ditemukan reaksi alergi pada ibu9.

  • Amoxycillin, ampicillin, benzathine penicillin, benzylpenicillin, phenoxymethylpenicillin, procaine penicillin A
  • Amoxycillin with clavulanic acid , flucloxacillin, mezlocillin, piperacillin, piperacillin with tazobactam B1
  • Azlocillin B3
  • Dicloxacillin, ticarcillin sodium with potassium clavulanate B2
  1. C. Tetrasiklin

Tetrasiklin merupakan prototipe antibiotika spektrum luas yang terutama bersifat bakteriostatik untuk beberapa bakteri gram positif dan negatif. Tetrasiklin mampu menembus mikroorganisme dengan cara difusi pasif maupun transpor aktif. Hanya sebagian yang diabsorpsi, sedang sebagian lagi tetap berada disaluran pencernaan dan mampu mengubah flora normal usus, meningkatkan resiko terjadinya gangguan pada saluran pencernaan seperti misalnya kolitis pseudomembranosa.

Tetrasiklin dapat dengan mudah melintasi plasenta dan mencapai kadar terapetik pada sirkulasi fetal. Jika diberikan pada trimester pertama kehamilan, tetrasiklin menyebabkan deposisi tulang in utero, yang pada akhirnya akan menimbulkan gangguan pertumbuhan tulang , terutama pada bayi prematur. Meskipun hal ini bersifat tidak menetap (reversibel) dan dapat pulih kembali setelah proses remodelling, tetapi sebaiknya tidak diberikan pada periode tersebut.

Pada trimester kedua dan ketiga kehamilan, pemberian tetrasilin akan mengakibatkan terjadinya perubahan pada warna gigi (menjadi kekuning-kuningan) yang bersifat menetap disertai hipoplasia enamel. Ada pula bukti yang menunjukkan bahwa terjadinya katarak kongenital kemungkinan besar berkaitan dengan pemberian tetrasiklin pada ibu yang mendapat tetrasiklin pada umur kehamilan 8-12 minggu.

Demeclocycline, doxycycline, minocycline, tetracycline D

  1. D. Aminoglycosida

Obat-obat golongan aminoglikosida pada umumnya mempunyai sifat bakterisida dengan aksi kerja yang hampir sama, yaitu menghambat sintesis protein pada sel bakteri. Efektif untuk pengobatan infeksi yang terutama disebabkan terutama oleh bakteri gram negatif. Absorpsinya melalui saluran pencernaan sangat jelek, oleh sebab itu pada umumnya diberikan parenteral.

Obat-obat yang tergolong aminoglikosida antara lain kanamisin, gentamisin, tobramisin, sisomisin, netilmisin, amikasin, framisetin, neomisin dan paramomisin dikenal bersifat nefrotoksis dan ototoksis, sehingga pemakiannya dalam klinik terbatas untuk infeksi-infeksi berat. Obat-obat ini dapat melintasi plasenta dan masuk kesirkulasi janin pada kadar terapetik.

Oleh karena efek nefrotoksik dan ototoksiknya, aminoglikosida tidak dianjurkan selama kehamilan. Banyak penelitian membuktikan bahwa obat-obat golongan aminoglikosida dapat menimbulkan kerusakan ginjal tingkat seluler pada janin terutama jika diberikan pada periode organogenesis. Kerusakan saraf kranial kedelapan juga banyak terjadi pada bayi-bayi yang dilahirkan oleh ibu yang mendapat aminoglikosida pada saat kehamilan8. Streptomycin, kanamycin dapat menimbulkan komplikasi otostatik dan nefrotoksik. Timbul bila diberi dalam waktu yang lama dan dosis yang besar.

Amikacin, gentamicin, kanamycin, neomycin, netilmicin, tobramycin D

  1. E. Quinolon

Alatrofloxacin, ciprofloxacin, enoxacin, fleroxacin, norfloxacin, ofloxacin B3

  1. F. Makrolid
  • Azithromycin, roxithromycin B1
  • Clarithromycin B3
  • Erythromycin A

  1. G. Antibiotika Jenis Lainnya

1. Atovaquone, colistin IV , meropenem, metronidazole, vancomycin B2

Metronidazol telah dikenal lama sebagai antiprotozoa, yang umumnya digunakan untuk mengobati trikhomoniasis, giardiasis dan amubiasis serta infeksi yang disebabkan oleh bakteri anaerob. Akhir-akhir ini pemakaiannya dalam klinik meningkat, baik digunakan secara tunggal maupun kombinasi dengan antibiotika lain, khususnya untuk infeksi-infeksi gastriinstastinal, dimana sering melibatkan kuman anaerob. Kadar metronidazol dalam serum dan waktu paruh eliminasi pada wanita hamil tidak berbeda dengan kadarnya pada wanita tidak hamil.

Banyak peneliti menyatakan bahwa metronidazol bersifat mutagen dan karsinogen. Metronidazol dapat meningkatkan kecepatan mutasi spontan beberapa bakteri aerob in vitro. Telah pula dilaporkan pula pemakaian pada binatang uju dengan dosis sangat tinggi memberikan efek karsinogenik, tetapi hingga saat ini data mengenai efek buruk pada janin belum diketahui. Ini bukan berarti penggunaan metrinidazol pada wanita hamil dapat dianggap aman.

pemakaian metronidazol tidak dianjurkan pada trimester I, apabila karena terpaksa harus diberikan pada trimester II dan III maka jangan diberikan dalam dosis yang besar dan dalam jangka waktu yang lama. Walaupun tidak terbukti bahwa metronidazol bersifat teratogen pada binatang uji , tetapi sebaiknya dihindari pemberiannya pada wanita hamil karena dikhawatirkan dapat memacu perubahan pada human lymphocites.

2. Aztreonam, mupirocin, spectinomycin B1

3. Chloramphenicol, clindamycin, lincomycin, nalidixic acid A

Kloramfenikol merupakan antibiotika yang terutama bersifat bakteriostatik, dengan potensi menghambat sintesis protein bakteri . Selama ini kloramfenikol sangat populer untuk mengobati tifus abdominalis atau boleh dikata sebagai obat pilihan pertama. Jika diberikan pada wanita hamil, kadar dalam plasma fetal berkisar antara 33% – 80% dari kadar dalam plasma ibu. Biotransformasi kloramfenikol terutama terjadi melalui glukorinidasi pada hepar dan eiliminasi pada ginjal. Pemberian klormfenikol pada wanita hamil, terutama trimester dua dan tiga dimana hepar belum matur dapat menyebabkan terjadinya sidrioma Grey pada bayi yang ditandai dengan kulit sianotik, sehingga bayi tampak keabu-abuan, hipotermia, muntah, abdomen protuberant dan menunjukkan reaksi menolak menghisap susu disamping pernapasan yang cepat dan tidak teratur serta letargi. Resiko ini meningkat pada bayi-bayi yang prematur.

4. Clavulanic acid B1

5. Fusidic acid C

6. Imipenem-cilastatin combination, teicoplanin, tinidazole B3

7. Nitrofurantoin (terapi jangka pendek) A

Nitrofurintoin lebih banyak digunakan sebagai antiseptik pada saluran kencing. Karena dimetabolisme dan dieksresi secara cepat, tidak pernah terdeteksi dalam kadar yang cukup (baik di sirkulasi maupun jaringan) untuk menimbulkan efek antibikteri sistemik.

Jika diberikan pada awal kehamilan, kadar nitrofurantoin pada jaringan fetal lebih tinggi dibanding ibu, tetapi kadarnya dalam plasma sangat rendah. Dengan makin bertambahnya umur kehamilan, kadar nitrofurontoin dalam plasma janin juga meningkat8.

Sejauh ini belum terbukti bahwa nitrofurontoin dapat menimbulkan terjadinya malformasi janin. Namun perhatian harus diberikan, terutama pada kehamilan cukup bulan dimana tidak mustahil pemberian nitrofurintoin harus dihindari terutama oleh karena potensinya untuk menimbulkan anemia hemolitik pada janin, mengingat belum sempurnanya sistem enzim glukose 6 phosfat dehidrogenase (G6PD).

8. Pentamidine B3

9. Trimethoprim B3

10. Sulfonamid

Sulfonamid (terutama dalam bentuk kombinasi, misalnya dengan trimetoprim) lebih banyak dikenal untuk mengobati infeksi saluran kemih, bahkan sebagai drug of choice. Sulfonamid dikenal sebagai penghambat kompetitif oleh karena mampu berkompetisi dengan PABA (Para Amino Benzoic Acid) yang sangat diperlukan pada pembentukan asam folat bakteri dengan membentuk analog asam folat non fungsional, sehingga secara tidak langsung menghambat pertumbuhan bakteri.

Semua obat yang tergolong sulfonamid dapat melintasi plasenta dan masuk sirkulasi janin, meskipun dalam kadar yang lebih rendah atau sama dengan kadar dalam tubuh ibu. Pemakainnya pada wanita hamil harus dihindari, terutama pada akhir masa kehamilan mengingat sulfonamid mampu mendesak bilirubin dari tempat ikatannya oleh protein dan menyebabkan kern ikterus pada bayi yang baru dilahirkan. Keadaan ini mungkinn akan menetap sampai 7 hari setelah bayi lahir.

Sulfadoxine, sulfadiazine, sulfamethizole, sulfamethoxazole C

11. Trimethoprim-sulfonamide combinations C

Referensi :

  1. Wood, A. J. J, Drug in Pregnancy, 1998, Volume 338 Number 16 1128- 1137
  2. Nejm , Antagonist During Pregnancy And The Risk Of Birth Defects, November 30, 2000, Volume 343 Number 22, 1608 – 1614.

3 Responses to Penggunaan Antibiotik Pada Kehamilan

  1. eemoo says:

    perkembangan teknologi faramsi yang begitu cepat memerlukan update cepat tentang obat-obatan untuk wanita hamil

  2. bidanku says:

    Trims info yang sangat bagus dan bermanfaat🙂
    kebetulan saya juga lagi mencari referensi yang masalah ginian🙂 trim’s

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: